Pendidikan Multikultural
Apa itu Pendidikan Multikultural?
Pendidikan
multikultural adalah pendidikan yang menghargai adanya keberagaman dan mencakup
perspektif dari berbagai kelompok budaya. Dengan kata lain, adanya unsur
keberagaman pada para peserta didik, seperti tingkat sosial ekonomi, etnis, dan
gender, menjadi unsur terpenting dalam pendidikan multikultural dengan dorongan
upaya saling menghargai, keadilan dan kebersamaan dalam proses pengajaran.
Pendidikan multikultural mendukung upaya pemberdayaan (empowerment) untuk
mendorong siswa dengan lebih baik dengan adanya keterlibatan minoritas dan
budaya dalam kurikulum dan buku pelajaran. Selain itu pendidikan multikultural
juga menekankan pada pengurangan prasangka bertujuan untuk meniadakan pandangan
negatif dan stereotipikal terhadap orang lain dan pedagogi keadilan merujuk
pada modifikasi proses pengajaran untuk menggabungkan bahan-bahan dan strategi
pembelajaran yang sesuai untuk laki-laki dan perempuan serta berbagai kelompok
etnis. Sonia Nieto (1992, 2003, 2005) merekomendasikan pendidikan multicultural
yang baik meliputi:
- · Kurikulum sekolah sebaiknya harus antirasis dan antidiskriminasi. Siswa-siswa harus merasa bebas untuk mendiskusikan isu-isu etnisitas dan diskriminasi.
- · Pendidikan multicultural harus menjadi bagian dari pendidikan setiap siswa. Ini akan membuat semua siswa menjadi bilingual dan perspektif budaya termasuk papan bulletin, ruang makan siang, dan pertemuan.
- · Siswa harus dilatih untuk menjadi lebih sadar akan budaya. Ini menjadikan siswa-siswa lebih terampil dalam menganalisis budaya dan lebih sadar akan faktor historis, politik,dan sosial yang membentuk pandangan mereka akan budaya dan etnisitas. Harapannya adalah bahwa pemeriksaan kritis seperti ini akan memotivasi siswa-siswa untuk memperjuangkan keadilan politik dan ekonomi.
Pengajaran yang relevan secara budaya menjadi aspek penting
dalam pendidikan multicultural. Pengajaran ini berusaha untuk berhubungan
dengan latar belakang budaya pelajar. Ada pula modal dari pendekatan
pengetahuan adalah menekankan bahwa guru harus mengunjungi rumah para siswa
untuk mengembangkan hubungan sosial dengan anggota-anggota keluarga siswa
mereka guna mempelajari lebih banyak tentang latar belakang budaya dan etnis
mereka, sehingga mereka bisa mengembangkan pengetahuan ini ke dalam pengajaran
mereka. melalui pendekatan ini, guru bisa mempelajari lebih banyak tentang
karakteristik pekerjaan, minat, dan komunitas dari keluarga siswa-siswanya.
Guru juga harus mempunyai harapan prestasi yang tinggi untuk siswa-siswa dari
latar belakang etnis minoritas dan berpenghasilan rendah, serta melibatkan
mereka dalam program-program akademis yang sulit.
Pendidikan yang Berpusat pada Isu
Pendidikan yang berpusat pada isu juga menjadi aspek penting
dalam pendidikan multicultural. Dalam pendidikan ini, siswa-siswa diajari
secara sistematis memeriksa isu-isu yang melibatkan kewajaran dan keadilan
sosial. Mereka tidak hanya mengklarifikasi nilai-nilainya, tetapi juga
memeriksa alternatif dan konsekuensi apabila mereka mengambil sikap tertentu
terhadap sebuah isu.
Memperbaiki Hubungan antara Anak-anak dari Kelompok Etnis
yang Berbeda
Kelas Mozaik
Psikolog sosial, Elliot Aronson (1986) mengembangkan konsep
kelas mozaik (jigsaw classroom), yang mengharuskan siswa-siswa dari latar
belakang budaya yang berbeda untuk bekerjasama, dengan mengerjakan
bagian-bagian yang berbeda dari satu tugas guna mencapai tujuan yang sama.
Kontak Pribadi yang Positif dengan Orang Lain dari Latar
Belakang Budaya yang Berbeda
Hubungan akan membaik ketika para siswa berbicara kepada
satu sama lain tentang kekhawatiran, keberhasilan, kegagalan, strategi
penanggulangan, dan minat pribadi mereka, serta hal-hal lainnya. Ketika
siswa-siswa mengungkap informasi pribadi mereka, kemungkinan besar mereka
dianggap sebagai individu daripada sekadar sebagai anggota satu kelompok.
Berbagi informasi pribadi seringnya menghasilkan penemuan berikut: orang-orang
dari latar belakang budaya berbeda berbagi banyak harapan, kekhawatiran, dan
perasaan yang sama. Berbagi informasi pribadi bisa membantu meniadakan halangan
dalam-kelompok/luar-kelompok dan kami/mereka.
Pengambilan perspektif
Latihan dan aktivitas yang membantu siswa-siswa melihat
perspektif orang lain bisa memperbaiki hubungan antaretnis. Dalam suatu
latihan, siswa-siswa mempelajari perilaku baik tertentu dari dua kelompok budaya
yang berbeda (Shirts, 1997). Sesudah itu, kedua kelompok berinteraksi satu sama
lain sesuai dengan perilaku itu. Akibatnya mereka merasa gelisah dan takut.
Latihan tersebut dirancang untuk membantu siswa-siswa memahami kejutan budaya
yang merupakan akibat dari tinggal bersama orang-orang yang berperilaku dengan
cara-cara yang sangat berbeda dari apa yang biasanya dialami seseorang. Hal ini mendorong para siswa untuk memahami
perspektif yang berbeda.
Pemikiran yang Kritis dan Inteligensi Emosional
Intelegensi emosional menguntungkan hubungan antaretnis.
Keterampilan inteligensi emosional bisa membantu siswa-siswa memperbaiki
hubungan mereka dengan orang lain yang beragam: memahami penyebab perasaan
seseorang, baik dalam mengelola amarah, baik dalam mendengarkan apa yang
dikatakan orang lain, serta termotivasi untuk berbagi dan bekerjasama.
Siswa-siswa yang belajar untuk berpikir secara mendalam dan secara kritis
tentang hubungan antaretnis, kemungkinan besar menghurangi prasangka mereka dan
mengurangi pemberian stereotip kepada orang lain. Siswa-siswa yang berpikir
secara sempit sering membuahkan prasangka. Namun ketika siswa-siswa belajar
untuk mengajukan pertanyaan, pikirkan terlebih dahulu semua isu-isu daripada memberikan respon secara otomatis,
dan menunda penilaian sampai informasi yang lebih lengkap tersedia sehingga
mereka menjadi tidak begitu berprasangka.
Mengurangi prasangka
Louise Derman-Sparks dan Anti-Bias Curriculum Task Force
(1989) menciptakan sejumlah alat untuk membantu anak-anak mengurangi,
menangani, atau bahkan meniadakan prasangka-prasangka mereka. kurikulum
antiprasangka berpendapat bahwa meskipun perbedaan itu bagus, mendiskriminasi
orang-orang itu tidak baik. Kurikulum ini mendorong guru untuk menghadapi
isu-isu prasangka yang mengganggu daripada mentupinya. Berikut ini adalah
beberapa strategi antidiskriminasi yang direkomendasikan untuk guru:
- · Menunjukkan gambar anak-anak dari berbagai kelompok etnis dan budaya. Memilihkan buku untuk siswa-siswa yang juga mencerminkan keberagaman ini.
- · Memiliki aktivitas dan materi sandiwara yang mendorong pemahaman etnis dan budaya. Gunakanlah sandiwara yang dramatis untuk mengilustrasikan peran nonstereotipikal dan keluarga dari latar belakang yang berbeda.
- · Berbicara dengan siswa-siswa tentang pemberian stereotip dandiskriminasi. Terhadap orang lain. Buatlah sebuah peraturan keras bahwa tidak ada anak yang dibolehkan untuk diejek atau diasingkan karena etnisitas atau ras mereka.
- · Melibatkan orang tua dalam diskusi-diskusi tentang bagaimana anak-anak mengembangkan prasangka dan memberitahu orang tua tentang upaya Anda untuk mengurangi prasangka terhadap etnis di kelas.
Meningkatkan Toleransi
“Teaching Tolerance Project” memberi sekolah-sekolah sumber
dan materi untuk meningkatkan pemahaman antar budaya dan hubungan antara
anak-anak kulit putih dan anak-anak berwarna di AS (Heller &Walkins,1994).
Proyek tersebut dapat dilihat di www.tolerance.org.
Tujuan majalah tersebut adalah untuk berbagi pandangan dan memberikan sumber
untuk toleransi pengajaran.
Sekolah dan Masyarakat Sebagai Satu Tim
Psikiater Yale James Comer menekankan bahwa pendekatan tim
masyarakat merupakan cara terbaik untuk mendidik anak-anak. Tiga aspek penting
dari Comer Project for Change adalah (1) tim penguasaan dan manajemen yang
mengembangkan rencana sekolah yang komprehensif, strategi penilaian, dan
program pengembangan staf; (2) tim pendukung sekolah atau kesehatan mental; dan
(3) program orang tua. Program ZComer menekqnkan tidak ada kesalahan (fokusnya
harus pada menyelesaikan masalah, bukan menyalahkan), tidak ada keputusan,
kecuali menurut consensus, dan tidak ada paralisis (yaitu tidak ada pembantah
yang bisa menghalangi keputusan mayoritas yang kuat). Comer mengatakan bahwa
seluruh masyarakat sekolah harus mempunyai sikap yang kooperatif daripada sikap
yang bermusuhan. Selain itu Comer juga menekankan perkembangan sosioemosional
anak dan hubungan anak-anak dengan pengasuh juga harus ditingkatkan apabila
menginginkan reformasi pendidikan berhasil.
Sumber: Psikologi Pendidikan, John W. Santrock
(Posting blog diatas disajikan untuk memenuhi mata kuliah Psikologi Pendidikan di Fakultas Psikologi USU Tahun Ajaran 2016-2017)
Komentar
Posting Komentar